Ya atau Tidak

bisa ngobrol bentar ga...

Gadis, ada yg mau aku utarakan pada kamu
sebenarnya aku punya masalah kronis neh...
terutama di sini neh (nunjukin dada...)

Aku laki-laki normal
setelah aku mengenal kamu
konsentrasiku mulai menurun

Kenapa ya? bayang wajahmu
selalu muncul di otak aku setiap hari
aku mo ke kampus, selalu mikirin kamu
aku mo tidur, mikirin kamu
aku bangun tidur pun, mikirin kamu
perasaan ini tidak pernah aku rasakan
pada wanita aku temui selama ini

Trus, aku ceritain ini ama temanku
katanya seh aku sedang kasmaran
katanya...
menurut kamu gimana?

Gadis, setidaknya jawaban dari kamu ini
dapat menenangkan pikiran aku
yang sedang resah
engkau pun pasti tahu jantungku sedang berdetak keras
saat ini...

Pliss deh... jangan diam kayak batu donk!
jangan buat aku menderita karena sikapmu itu...
jika dunia hanya untuk memilih
kenapa kau masih terus menggantung?
ya atau tidak...

                            

Mana Kutahu Kau Sudah Ada Yang Punya

Baru sehari kemarin kita telah terbiasa bercanda tawa…
Seleramu itu membuat aku terpesona….
Hingga tiada terasa aku menjadi larut dengan tingkah lakumu
Manisnya bisikkan kata-kata pengharapan darimu…

Kau dewi cahaya yang memberikan pelita jiwa…
Sehingga dunia ini akan hidup dalam keabadian...
Kau bidadari di awan yang memberikan kedamaian hati…
Di mana segala tangisku kau bawa dalam suci belaianmu…

Bedug-bedug asmara menggebuk kencang isi hatiku…
Walaupun ini yang sudah lama aku pendam...
Menanti belahan hati pada sisa hidupku…
Tak ingin aku lepas lagi perjumpaan denganmu…

Tapi aku benar-benar tak tahu…
Segalanya di dalam hubungan ini dapat terjadi…
Aku tak akan pernah mau merebutmu dari dia…
Walaupun masih tersisa cinta dan aku tetap bahagia…

Bukan salahmu untuk berkata jujur padaku…
Karena aku yang tak ingin menyakiti hati siapapun…
Kita adalah manusia yang memiliki perasaan…
Kusadari betul di dalam setiap langkah hidupku…

Sekarang yang bisa aku lakukan hanya menunggu…
Bukan menunggu kembalinya kata-kata harapan darimu…
Aku hanya bisa menunggu takdirku dalam waktu…
Dalam penunjuk arah menuju aku berlabuh…

Entah kemana…
Aku tetap menunggu…

13 Maret 2008

Dear Ses

Dear Ses,

Entahlah kalau aku menebak perasaanmu ketika membaca surat ini, mungkin terkejut ataukah malah bingung? Tidak tahu juga kenapa aku sampai menulis surat ini dan aku harap bisa menjelaskannya nanti. Sebelumnya…. Halooo!!! Apa kabarmu, Ses? Kamu masih baik-baik aja di Bandung kan? Dan apa kabar juga aku, Indra teman waktu SMP. Masih ingat kan? Atau sekarang kamu lagi mikir, siapa juga orang yang tiba-tiba aja ngirim surat dan ngaku-ngaku teman lama kamu. Memang norak ya? Ini aku Indra yang di kelas 2A SMP 2 Bandung. Yang waktu itu murid pindahan dari Ambon…. Semoga kamu ga lupa. Benar-benar lama banget ya, dihitung-hitung waktu itu tahun 1999 sampai 6 tahun sekarang, kamu mungkin ga punya lagi gambaran tentang Indra. Oh iya waktu itu aku ga lama-lama di kelas 2A. entah di pikiran kamu, aku ini orangnya seperti apa. Tapi jujur, kamu itu salah satu teman yang membuat aku cepat mengenali pergaulan di sekolah.

Aku ingat waktu pindahan dulu, aku masih bego-begonya. Kalau ga salah waktu itu kamu jadi sekretaris kelas yang mau nganterin aku ke seorang guru. Aduh, kamu baik-baik banget ya ama aku. Dan masih saja teringat di dalam pikiranku.

Oke, aku bakal ngejelasin kenapa aku tiba-tiba nulis surat ama kamu. Begini Ses, suatu malam di awal Februari tahun ini aku dapat mimpi tapi bukan mimpi jorok loh! Aku merasa mimpi itu bertemu lagi dengan teman-teman lama di SMP dan aku merasa senang banget. Akhirnya setelah aku terbangun dari tidur, mimpi itu mengingatkan aku kembali ke masa-masa aku pertama kali tiba di Bandung. Aku benar-benar merasakan de Javu, sebuah perasaan yang aneh dan terekam di alam bawah sadar aku. Kamu ngerti kan? Dan tiba-tiba saja yang terlintas di pikiran aku itu adalah dirimu, Ses. Benar, suer deh! Aku juga merasa aneh, koq jadi kepikiran kamu. Tapi maafkan aku, bukan maksud aku mau ngapa-ngapain kamu. Aku mencoba bersikap realistis, sosok seorang gadis bernama Ses yang pernah aku kenal  dan dibandingkan dengan diri kamu sekarang mungkin saja sudah berbeda. Sudah hampir 6 tahun ini aku tidak pernah menjalin kontak, hal itu cukup bagi seseorang untuk melupakan orang yang pernah bertemu dalam perjalanan hidupnya.

Hanya hal itu yang ingin aku sampaikan padamu. Dalam surat ini, aku hanya ingin mengekspresikan perasaanku yang aneh ini dalam bentuk kata-kata yang bisu. Paling tidak aku sudah merasa lega menulis surat ini walaupun akan sangat memalukan kalau surat ini benar-benar sampai di tangan kamu. Aku tidak mengharapkan kalau kamu bakal membalas surat ini, ga perlu dibahas deh… yang penting kalau Ses sudah membaca surat ini, perasaanku sudah tenang. Terakhir, salam dariku buat keluarga Ses dan teman-teman SMP 2 Bandung.

12 Februari 2005

Buku Kenangan Telah Ditutup

selama dua tahun lebih...
bayang dirimu telah mengisi pikiranku...
aku banyak mendapatkan inspirasi...

tahu kah engkau...
pertemuan dengan dirimu...
membuat aku terbang ke alam mimpi...

mimpi indah...
membangkitkan romantisme masa lalu...
namun hal itu membuatku tersesat...

tersesat bagaimana bertemu kamu lagi...
aku hanya bisa duduk terdiam...
meratapi keputus asaan...

aku hanya lelaki pengecut...
yang tidak berani jujur padamu...
karena aku tahu engkau sangat berarti...

aku tak ingin engkau menangis...
air matamu terlalu berharga...
untuk kau tumpahkan di wajah manismu...

kini semuanya telah berlalu...
aku ingin semua berjalan apa adanya...
namun aku tak akan melupakanmu...

seperti mentari pagi yang bersinar...
memberikan cahaya kehidupan...
seperti kamu yang telah menyinari isi hatiku...

17 Agustus 2005

~selesai sudah~

Indahnya Suara Itu

Di saat kita jalani hidup ini
Kita dengarkan kamu bersua
Kita dengarkan kalian berkata
Kita dengarkan mereka berbisik

Entah apa bunyi-bunyi yang didengar
Terasa jenuh hati mendendam pikir
Berhentilah bernyanyi untukku
Berilah aku waktu untuk bibir ini

Nada-nada harmoni inginku tuang
Dalam dimensi ruang ini
Biarkan pikiranku melayang
Aku nikmati setiap ucapan yang keluar

Di mana rasa lepas pikiran
Di mana sinergi hati damaikan jiwa
Menyejukkan hati yang gundah
Di mana itu berasal dari suara-suara

21 Februari 2004

Wanita Soleha

wanita soleha adalah sebaik-baik keindahan
menatapnya menyejukkan kalbu
mendengarkan suaranya menghanyutkan batin
ditinggalkan menambah keyakinan

wanita soleha adalah bidadari surga yang hadir di dunia
wanita soleha adalah ibu dari anak-anak yang mulia
wanita soleha adalah istri yang meneguhkan jihad suami
wanita soleha penebar rahmat dunia dan akhirat
cahaya dunia dan akhirat

...sebuah tabladur dari Aa Gymnastiar.

Kantuk

Air mengalir kemana dituju
Angin berhembus kemana dituju
Seperti saat-saatku melihat dunia ini
Waktuku berjalan kemana kutuju

Mataku dipaksa membuka bila ingin
Kadang-kadang ingin ditutup bila berat
Untunglah tubuh ini mengerti
Tapi sering juga cuek

Goresan hati ini cuma
Mengisi untaian waktu berjalan
Apabila besok panggilan Esa
Mohon tubuhku untuk bangun

8 Maret 2005

Bertepuk Sebelah Tangan

Permulaan memang terkesan selalu syulit.
Dirimu sudah berusaha, ndra... hiks...
Memang pedih...
Tapi gak boleh berhenti di sini.
cowok tangguh kagak bakal berhenti di sini.

tabahkan hatimu nak
perjuangan masih panjang.
cuman ditonjok doank kan
belom diinjek-injek
santai, ndra... masih ada hansaplast buat
membalut kepingan hatimu hiks, sabar!

udah, ndra... gak usah didramatisir gini.
ntar cengeng lho

aduuh karunyaa !! daniel bedingfil banget sih !!
norak tahu !! woi

eh gak ding sory ngutip dari buku... he he he

3 Bidadari

Kau adalah makhluk misterius dalam hidupku ini
Dulu ketika aku belum mengenal kamu
Aku takut
Aku tidak peka

Ku anggap kau sama saja
Sama dengan manusia tipe lainnya
Ternyata otak error-ku bodoh
Menilai berdasarkan ego-ku

Dan ketika ego-ku dihadapkan pada hatimu
Kau malah makin menjauh dari aku
Meninggalkan asa yang menggantung
Kecewa pada siapa aku ini

Biarlah ini menjadi kenangan yang terindah
Kenangan yang dapat mengingatkan
Betapa beratnya kehilangan sesuatu yang aku dambakan
Kehilangan salah satu dari 3 bidadari hatiku ini

Setetes Embun Surga

aku yg lemah yg tiada kuasa
aku yg bodoh yg tiada mengetahui
dulu terasa mengalir angin firdaus
merasuk segala fondasi jiwa dan raga

ketika waktu itu datang
diri merasa hampa
satu-persatu pucuk daun berguguran
Inilah suratan takdirku

Berpisah dengan apa yang kurasa hangat
Terlepas dari apa yang kulihat indah
aku berjalan di antara puing reruntuhan
merusakan jaring laba-laba tertenun alami

kini ketika ijin-Mu telah menunjukkan kuasa
maka tumbuhlah pohon ini
hijaukanlah segala yang telah menjadi debu
aku merasa di persimpangan jalan

Antara memilih puing runtuh yang telah dibangun
atau setetes embun surga yang mengalir dari daun
kucoba menggapai tetes embun tersebut
Terasa nikmat ketika de javu

ketika aku terus menggapai tetes itu untuk kuminum
pohon hijau itu tumbuh menjulang ke atas
makin kuraih makin terjungkal dibuatnya aku
kini telah terlambat, pohon itu di langit

satu per satu aku telah dibuaikan fenomena fatamorgana
apakah aku mungkin meraihnya suatu hari nanti
Bila atas ijin-Mu lagi aku takkan bisa meminum semuanya
Kini harus kujalani suratan takdir yang ada